Pages

Pages - Menu

Kamis, 10 Mei 2018

[Review] Film 212: The Power of Love, Penemuan Cinta Dalam Perjalanan Ciamis-Jakarta

Selalu ada titik balik dalam sebuah perjalanan. Perjalanan mengajarkan manusia akan kesabaran, perjuangan, dan perubahan. Maka tidak heran jika Allah menghendaki kita untuk bergerak dalam meraih sebuah perubahan menuju kebaikan tentunya.



Film 212: The Power of Love yang disutradarai Jastis Arimba ini merupakan film dengan kisah yang berlatar peristiwa aksi 212. Bukan sebaliknya, film yang melatarbelakangi aksi 212. Mungkin sebagian orang berpikir bahwa film ini akan berkisah tentang latar belakang aksi yang terjadi pada 2 Desember 2016 yang penuh muatan politik. Namun, sebenarnya konflik utama dalam film ini adalah drama keluarga. Seorang ayah dan anak yang memiliki ideologi berbeda bahkan bertolak belakang.



Rahmat yang diperankan oleh Fauzi Baadilla merupakan seorang jurnalis lulusan terbaik dari Harvard University, Amerika yang memiliki pemikiran pluralisme sehingga bersikap skeptis terhadap agamanya sendiri. Ayahnya bernama KH Zainal Abdullah yang diperankan oleh Humaidi Abas dikenal sebagai Kyai yang memiliki banyak jamaah dan sangat dihormati.



Kisah masa lalunya yang membuahkan kekecewaan, kebencian, dan kesombongan pada diri seorang Rahmat. Tulisan-tulisannya selalu mendengungkan genderung perang terhadap agamanya sendiri.

Alur cerita yang apik membuat kisah ini menarik. Juga akting dari para pemain yang berhasil menggetarkan hati para penonton. Berbeda dengan film-film religi lainnya, di film ini tidak diiringi sountrack lagu yang biasanya digunakan untuk mendukung adegan. Namun, tanpa sountrack lagu pun, adegan dalam film ini sangat mengena hati di hati penonton. Suara alami seperti lantunan alqur'an, takbir, sholawat, dan teriakan semangat yang membuat film ini begitu hidup. Tanpa sadar air mata sudah tidak kuat dibendung.

Diantara adegan yang menegangkan dimana terjadi perang argumen antara Rahmat dengan tokoh lainnya, terselip lelucon yang selalu diperankan Adhin Abdul Hakim Sebagai Adhin. Hal tersebut menjadikan film ini juga terasa bumbu komedinya.



Film yang bersetting di Ciamis ini, menjadikan budaya lokal terangkat di film ini. Mulai dari kentalnya logat sunda sampai pengambilan scane ikon-ikon kota Ciamis.

Film yang dirilis dengan penggalangan wakaf ini, merupakan film yang humanis tentang cinta, keimanan, dan perdamaian. Cinta sesama manusia dan cinta kepada Allah. Tidak ada yang mampu menggerakan hati seseorang selain Allah. Rahmat yang telah pergi jauh dari keluarganya selama 10 tahun, tergerak hatinya untuk kembali pulang.



Tidak mudah baginya untuk meluluhkan ego yang telah lama ia pupuk. Keterlibatannya dalam perjalanan Ciamis-Jakarta hanya demi menjaga sang Ayah. Sehingga selama perjalanan, kebekuan dan kecurigaan masih tetap tersulut.

Suasana yang terbangun saat rombongan tiba di Jakarta dan sampai di lapangan monas memiliki ruh yang sama saat peristiwa itu terjadi. Mungkin sebagian diambil dari dokumentasi asli peristiwa tahun 2016 lalu, dimana masa begitu tumpah ruah memadati lapangan monas dan sekitarnya. Dalam film berdurasi dua jam ini, penonton merasakan kembali semangat 212 yang kental dengan rasa ukhuwah islamiyah dan islam sebagai rahmatal lil'alamin. Makanan dan minumun dibagikan secara gratis, kebersihan dijaga, dan satu sama lain saling menjaga walaupun tidak saling mengenal.



Keberadaan Rahmat dalam aksi 212 tidak lepas dari dukungan dari orang-orang di sekitarnya, seperti Adhin  (teman profesinya),  dan Yusna (teman masa kecilnya) sehingga ia bisa sedikit berdamai dengan masa lalunya. Rahmat bertemu dengan para peserta aksi, melihat sendiri perdamaian, kasih sayang, dan cinta yang terbangun dalam aksi ini. Pada akhirnya, di lapangan monas ini ia telah mengurai benang kusut masa lalu bersama ayahnya.

Dialog antara Rahmat dan Ki Zainal dalam menyelesaikan masa lalunya merupakan adegan yang paling ditunggu penonton, karena sejak awal cerita hingga sampai di lapangan monas belum diketahui masalah yang terjadi antara Anak dan Ayah itu sehingga menyulut kebencian satu sama lain.



Pada film ini diperkenalkan pemain baru Humaidi Abas sebagai Ki Zainal. Menurut saya pribadi, beliau telah sukses memainkan perannya sebagai Ki Zainal. Sering kali saya dibuat menangis melihat adegannya terutama saat ia berkali-kali lemah dalam kesakitan. Adegannya saat meminum obat, kelelahan menempuh perjalanan, dan saat jatuh di kamar mandi. Seorang yang tegar bergerak untuk membela agama Allah meskipun kondisinya begitu lemah. Keyakinan akan pertolongan Allah dan rasa solidaritas untuk membela apa yang ia yakini.



Dengan demikian, film 212: The Power of Love sangat layak ditonton untuk semua kalangan, baik muslim maupun nonmuslim, orangtua maupun anak. Its about love, faith, and peace. Terima kasih untuk para pihak yang terlibat, telah mempersembahkan tontonan yang bermanfaat dan menghibur.






2 komentar: