#header-wrapper, #outer-wrapper, #footer-wrapper {width:970px} #header-left {width:200px;float:left} #header-right {width:729px;float:right} #main-wrapper {width:650px;float:left} #sidebar-wrapper {width:300px;float:right} .footer {width:315px;float:left}

Pages

Labels

Jumat, 08 Juni 2018

Menu Mewah 35K di Roemah Tjerita Pasta & Seafood

Ceritanya ini, kita ingin menyaingin ibu-ibu sosialita yang kerjaannya nongkrong di cafe dan resto-resto mewah. Setelah kemarin bukber di Satoria Hotel, kami masih penasaran dengan tempat makan yang satu ini. Tapi bagaimanapun, kami ini tidak bisa menyaingi ibu-ibu kece itu. Semua keindahan yang kami dapatkan hanya sesaat, setelah itu harus bergadang hingga sepertiga malam untuk memikirkan bahan presentasi besok pagi. Hiks.

Beruntungnya kami memiliki seorang teman yang foodhunter. Selalu ada informasi tempat-tempat makan yang menggiurkan meski pernah juga menjabani salah satu tempat namun jonk. Haha. Tempat makan yang menarik itu tentu saja disesuaikan dengan kemampuan kami. Bukan hanya kemampuan budget, tapi juga jarak tempuh dan menu yang ditawarkan.

Sebut saja Roemah Tjerita, tapi ini bukan nama samaran ya. Heheh. Dari namanya seperti rumah baca atau perpustakaan. Saya masih penasaran mengapa namanya rumah Tjerita, tapi sayang saya lupa untuk menanyakan itu kepada pelayan di sana. Namun, setelah berkeinginan untuk menuliskan pengalaman ini, saya menjadi paham akan alasan di balik nama Roemah Tjerita.

Inilah dia foodhunter kita yang sebelah kiri :)
Setiap pengunjung yang datang ke Roemah Tjerita pasti akan selalu membawa cerita kepada orang-orang sekitar. Begitupun saya kali ini. Restaurant yang terletak di jalan Demangan Baru no. 25 Yogyakarya ini memiliki area tidak terlalu luas, namun suasana yang nyaman dan instagramable membuat kami sangat betah di sini.

Baca juga : Bukber Romantis di Rooftop Satoria Hotel Yogyakarta

Setelah sampai sekitar pukul 16.50 di alamat yang kami tuju, terlihat dari luar, etalase yang menjajakan aneka kue. Ternyata restorannnya berada di bagian dalam dan di lantai dua. Kami menaiki tangga yang terbuat dari kayu dengan wallpaper bergambar pohon-pohon pinus serta dihiasi daun-daun hijau yang menjuntai.


Setelah sampai di lantai dua, ternyata masih sepi hanya ada satu kelompok anak muda sekitar 5 orang. Kami memilih meja dengan kursi sofa. Kami langsung memesan menu yang sebelumnya sudah kami lihat di instagram. Ternyata menu yang tersedia lebih banyak dari menu postingan di instagram. Bukan tanpa alasan kami datang ke sini. Selaim tempatnya yang kece, juga harganya yang terjangkau. Paket buka puasa hanya 35k dengan pilihan menu dory yang sudah include es roemah tjerita. Kita bisa memilih salah satu menu dory, yaitu golden dory siomay with french fries, golden dory sambal matah with aglio olio, golden dory with cream cheese pasta, yummy aglio olio pasta with dory, dan grilled dory with egg salt+aglio olio. Untuk lebih detail bisa follow ig @roemahtjerita. 

Setelah memesan menu, kami tidak mau melewatkan spot yang cantik ini. Untungnya tidak banyak pengunjung yang datang. Saya selalu heran dengan orang Jogja, ada tempat sebagus ini tapi masih sepi pengunjung. Kalau di Bandung pasti sudah banyak diserbu orang. Tapi ini menjadi keuntungan tersendiri bagi kami. Menemukan tempat yang keren, nyaman, tidak sesak dengan pengunjung, dan harga terjangkau tentunya. Tunggu dulu, mungkin sepi pengunjung karena rasanya yang kurang kena di lidah?

Mohon maaf kali ini saya narsis ;P


Tinggal beberapa menit lagi adzan magrib berkumandang, kami kembali ke meja untuk menunggu pesanan. Seorang pramusaji membawakan air mineral gelas ke atas meja kami. Saya kebetulan sedang tidak berpuasa, sedangkan teman-teman yang lain mengawali buka puasa dengan air mineral. Cukup lama menunggu akhirnya datang juga pesanannya. Es Roemah Tjerita yang pertama kali datang, lalu pesanan golden dory with cream cheese, golden dory sambal matah with aglio olio, dan grilled dory with eggsalt+aglio olio.


Pertama menyantap es Roemah Tjerita dengan porsi yang cukup banyak. Berbagai macam buah potong ditimbun es serut lalu diberi susu kental manis kemudian ditancapkan anggur merah dipuncak esnya membuat es Roemah Tjerita tampak cantik. Rasanya segar dan nikmat. Yang membuat saya kaget adalah diantara tumpukan buah potong itu ada rasa yang tidak asing di lidah saya. Bukan jenis buah maupun agar-agar. Coba tebak. Sudah menyerah? Ia adalah peuyeum Bandung alias tape singkong. Amazing... Di resto cantik ini ada peuyem Bandung di stok kulkasnya. Heheh.



Tiba saatnya menyantap menu utama. Saya memesan grilled dory with eggsalt+aglio olio. Jujur saja saya baru makan ikan dory, atau pernah tapi tidak tahu namanya dory. Wkwkw. Pertama kali membelahnya, sudah dapat dipastikan itu adalah ikan laut. Dagingnya yang empuk dan warnanya yang putih bersih. Tekstur dagingnya masir (kalau bahasa sundanya muruluk :D) dan agak kesat. Rasanya maknyoos alias sangat lezat. Saya tidak tahu rasanya yang gurih tapi tidak berlebihan ini berasal dari rasa ikan aslinya atau bumbu yang diberikan oleh chef.

Grilled dory with eggsalt+aglio olio
Ada hal unik lagi yang kami temukan saat makan di Roemah Tjerita ini, yaitu semua menu yang disajikan disandingkan dengan sambal tradisional bukan dengan saos sambal pada umumnya. Setelah tadi menemukan tape di lidah kami, kini kami harus mencocol frienc fries ke sambal ulek. Mungkin pemilik restonya ingin pengunjung tidak melupakan makanan khas daerah yang tidak kalah enaknya dengan western food. Heheh. Dan lebih unik lagi, pasta aglio olionya sudah dicampur dengan irisan cabe rawit. Jadi hati-hati ya bagi yang tidak suka pedas.


Tapi secara keseluruhan dengan segala keunikannya, menu makan dan minum yang kami santap sangat memanjakan lidah. Hanya dengan 35K kami bisa menikmati makanan mewah juga tempat yang cantik kalau tidak bisa dibilang instagramable. Bukan apa-apa karena kemampuan fotografi dan kamera saya masih terbatas. Heheh. Namun, kekurangannya adalah tidak disediakan mushola. Jadi untuk sholat harus mencari meajid di luar. Tapi buat yang di Yogyakarta patut dicoba menu yang ada di Roemah Tjerita ini. :)



Senin, 04 Juni 2018

Bukber Romantis di Rooftop Satoria Hotel Yogyakarta

Untuk pertama kalinya saya mengikuti buka bersama alias bukber. Bukan apa-apa, hal tersebut karena kali ini saya tinggal di rantau sendirian, tanpa keluarga kecilku. Jadi momen buka bersama menjadi sangat diperlukan agar segala kemelut kesedihan tidak menimpa saat buka puasa tiba. Apalagi teman-teman di kostku rata-rata nonmuslim karena berdekatan dengan univeraitas kristen. Oleh karena itu, sebisa mungkin untuk berbuka bersama teman seperjuangan. Tidak harus di tempat spesial, bahkan di mesjidpun menjadi kebahagiaan tersendiri.

Dan untuk pertama kali juga saya merasakan berbuka puasa di hotel. Kami ingin merasakan suasana berbuka puasa yang berbeda. Selain itu, sebagai penutup kebersamaan kami di bulan ramadhan karena ini merupakan minggu terakhir perkuliahan sebelum Idul Fitri. 

Seperti biasa, yang saya rasakan, hari-hari atau satu minggu menjelang libur panjang selalu diliputi tugas-tugas yang menyita waktu dan pikiran. Sehingga kami memilih hari senin untuk buka puasa di tempat yang berbeda. Hal itu dikarenakan senin tidak terlalu padat dengan tugas di hari berikutnya. Meskipun hari berikutnya tidak tertutup kemungkinan masih berbuka bersama. Heheh.

Selanjutnya kami berembug untuk menentukan tempat sampai diputuskan Satoria Hotel sebagai pilihan. Alasan utamanya adalah suasana tempat yang berbeda dimana hotel tersebut menyuguhkan view yang bagus yakni di atas gedung hotel atau yang dikenal dengan Rooftop. View kota dari atas juga kolam renang yang jernih bisa menambah suasana tenang saat menunggu pergantian hari. Selain itu, Satoria hotel menerapkan sistem All You Can Eat dengan harga mulai 60k/pak. Jadi, kita bisa makan sepuasnya tanpa tambahan biaya. Jarak hotel ini juga cukup dekat dengan tempat tinggal kami sehingga dianggap menjadi pilihan yang tepat untuk kami bukber.

Tepat hari Minggu, satu hari sebelumnya, saya direct message (dm) via instagram, menanyakan ketersediaan tempat untuk kami berlima dan menu hari Senin. Kemudian pihak Satoria mengirimkan daftar menu hari Senin tanpa menjawab ketersediaan tempat untuk 5 orang. Saya khawatir kuotanya sudah penuh karena saya pesan sudah H-1. Lama tidak menjawab mengenai kuota, saya meminta salah satu teman untuk menelepon agar mendapat kejelasan. Hasil menelepon ternyata kuota sudah penuh untuk hari Senin dan masih tersedia untuk hari Selasa. Akhirnya kami kelimpungan deh buat cari pengganti tempat buka bersama yang spesial. 

Numun, tiba-tiba pukul 5 sore di layar ponsel saya tertulis satoriahotel. Ternyata Satoria membalas pesan saya. Dan masih tersedia kuota untuk 5 orang. Kemudian dia menanyakan nama dan nomor whatsapp. Setelah saya membalasnya, saya menanyakan tentang DP (downpayment). Ternyata harus DP 50%. Namun, nomor rekeningnya belum diberikan. Tidak mau dihinggap php, akhirnya saya menelpon. Dengan saya memberi nomor wa, pihak satoria menghubungi saya dan memberi nomor rekeningnya. Salah satu teman saya mentrasfer sejunlah uang sebagai DP. Akhirnya kami jadi deh buka puasa di Satoria Hotel.



Tarif untuk berbuka puasa di Satoria Hotel adalah 70k/pak. Jika lebih dari 20 orang bisa mendapat harga 60k/pak. Dari flyer yang diberikan, untuk menu bukber hari Senin terdiri dari Takjil (kurma, kolak ubi, sosis solo, klepon), Appetizer (asinan Bogor, tahu gimbal), Main Course (nasi putih, bihun goreng, capcay, ayam rica, ikan bakar, sambal, acar, kerupuk), Dissert (fresh fruits, assorted pudding, assorted cake, es campur), babakaran (tradisional babakaran), soup sayur, live cooking (aneka gorengan dan martabak mesir), Stall (mie ayam), minuman (teh, kopi, juice, infuse water, dan 20 macam es campur).




Restoran sudah buka mulai pukul 16.30. Kami berangkat sekitar pukul 16.20. Waktu berbuka sebenarnya masih lama, tetapi karena kami berburu rooftop sehingga datang ketika mulai dibuka. Untuk konfirmasi kedatangan ternyata kami tidak perlu ke lobi depan (reseptionis), tetapi langsung saja ke restorannya. Sebenarnya di lantai bawah juga ada restoran. Karena kami booking tempat di rooftop maka langsung ke atas dan konfirmasi pada petugas yang ada di sana. Ternyata namaku sudah tercantum di salah satu meja, sesuai dengan janjinya. Karena sudah Dp maka kami bisa mendapatkan tempat yang sesuai pesanan (rooftop).


Sebenarnya ini kedua kalinya saya datang ke hotel ini. Sehingga sudah mengetahui suasana di rooftop ini. Tidak terlalu luas tetapi cukup nyaman untuk dinikmati apalagi saat senja mulai turun di kaki langit sebelah barat. Begitupun dengan makanan yang disediakan disini. Saat kunjungan pertama yaitu menginap sekitar akhir Oktober tahun lalu dengan breakfast di dalamnya, tidak menyisakan pengalaman yang kurang baik. Dalam artian pelayanan, fasilitas, dan makanan cukup memuaskan. Sehingga saya berani untuk kembali lagi ke sini walaupun hanya untuk berbuka puasa.

Kami duduk di kursi yang sudah disediakan sambil menunggu satu teman yang belum datang. Tidak lupa kami berfoto ria untuk mengabadikan momen. Dan bagiku tentunya untuk keperluan posting. Heheh. Namun, sayang sore ini nampaknya cuaca sedang berkabut. Semburat jingga di hamparan cakrawalan tidak terlihat dalam pandangan kami. Hanya lingkaran sempurna yang terlihat merona begitu terang, lalu tertutup awan dibagian tengahnya, dan perlahan tenggelam menghilang dari pandangan. Seiring dengan itu, lampu-lampu hias dinyalakan meski belum temaram. Setiap sudut sudah diterangi lampu yang membuat kami harus menghindar dari silaunya saat memotret. Juga penerangan di dalam sisi kolam yang membuat warna air begitu jernih dan biru maksimal.





Adzan di tempat setinggi ini, tidak cukup terdengar di telinga kami. Saya hanya mengandalkan jadwal sholat di aplikasi smartphone. Lima menit sebelum jadwal magrib, kami sudah membawa menu makanan terutama takjil. Saat kembali ke meja, seorang teman sudah menyantap menunya. Ternyata waktu magrib sudah tiba. 

Pertama kali saya minum air teh dan rasanya tawar. Ternyata gula disediakan secara terpisah. Selanjutnya makan dua buah kurma. Karena tempat duduk kami dekat pembakaran, maka saya mengambil dua sate baso ikan dan satu sayap ayam. Lalu mengambil buah dan cake. Sambil menunggu antrian makan yang panjang, saya menyantap makanan yang sudah diambil. Kemudian mengambil jus jeruk dan jambu. Kedua jus itu terasa kurang manis dilidah saya, mungkin karena sudah banyak es yang mencair.

Asinan Bogorpun tak lupa saya enyah. Rasanya segar di lidah tapi ada kekhawatiran sakit perut karena belum makan. Akhirnya saya berjuang mengantri. Menu yang saya dapatkan diantaranya nasi putih, mie goreng, tumis tempe, capcay, ikan filet tepung, soto ayam. 

Masih terdapat makanan yang belum sesuai dengan jadwal yang ada di flyer, seperti stall mie ayam. Padahal salah satu temanku sudah ingin banget makan mie ayam. Dari segi rasa, saya menemukan perbedaan dengan breakfast saat menginap tahun lalu. Mungkin antara breakfast dan dinner berbeda chef, atau antara restoran bawah dan rooftop berbeda resep. Ada sedikit kekecewaan yang saya bawa sepulang dari bukber ini, tetapi yang sedikit itu masih bisa tertutupi dengan pelayanan yang ramah serta suasananya yang nyaman dan romantis. Hihihi.


Ohya untuk sholat magrib, terdapat mushola di lantai bawah. Untuk yang mau berselang dengan sholat, jangan khawatir ditinggalin karena di sini tidak dibatasi dengan waktu. Sampai kami pulangpun masih ada sedikit sisa makanan. Makanan yang disediakan sudah sesuai dengan kapasitasnya. Jadi jangan takut kehabisan. Heheh.

Selasa, 15 Mei 2018

Pilihanku Hotel Horison Palma Pangandaran

Kami sudah lama berkeinginan untuk liburan ke Pangandaran. Bahkan suami hendak pergi hanya modal nekat. Perjalanan Bandung-Pangandaran yang menghabiskan waktu sekitar enam jam bisa saja ditempuh dengan pulang pergi. Namun, saya kurang setuju karena kondisi kami yang mempunyai bocah-bocah kecil. Belum lagi kondisiku yang sering pulang pergi Bandung-Jogja. Alih-alih liburan, mungkin badan malah menjadi remuk. 

Kondisiku sebagai pegawai tugas belajar di luar kota dan sebagai emak rempong, kerap kali memantau tanggal libur dan kalender akademik. Usut punya usut ujian tengah semester (UTS) ini akan berlangsung satu minggu karena anak-anak ada acara study tour ke luar kota. Sementara di kalender akademik berlangsung selama dua minggu. Dari situ saya punya kesempatan untuk liburan lebih lama.

Meskipun berita tersebut belum pasti, saya sudah mulai mencari-cari hotel untuk kami huni selama di Pangandaran. Buatku, hotel menjadi tempat singgah yang penting selama berlibur ke luar kota. Tempat beristirahat dan membersihkan diri setelah lama perjalanan. 

Tidak ada aplikasi yang kupunya selain traveloka. Mulailah pencarianku di sana. Ternyata banyak sekali pilihan hotel di Pangandaran. Harganyapun cukup bersaing. Jadilah saya dibuat bingung karenanya. Wkwkw. Mulai search artikel juga mengenai hotel di Pangandaran dan membandingkan satu sama lain di aplikasi traveloka.

Perbandingan yang biasa saya lakukan adalah rating, harga, dan lokasi. Selain itu, tidak kalah penting adalah baca ulasan para pelanggan yang pernah berkunjung. Semuanya saya temukan di aplikasi traveloka.

Baca juga : MENGINAP DI DUA HOTEL BERBEDA DI BOGOR

Lebih dari seminggu sebelum UTS saya sudah mendapat jadwal yang pasti. Alhamdulillah ternyata jadwal UTS saya memang seminggu. Meskipun rata-rata mendapat jadwal dua mata kuliah sehari. Hiks. 

Dari hasil perbandiang hotel yang rekomended, hati saya tertambat pada Horison Palma Pangandaran. Sepengalaman saya, rating dan ulasan yang tertera pada aplikasi traveloka tidak pernah melenceng. Saya memilih Horison Palma pangandaran karena ratingnya tinggi. Selain melihat nilai rating, kita juga harus memperhatikan jumlah yang memberi rating. Saat itu jumlah pengunjung Horizon Palma yang memberi rating sudah lebih dari 1200. Saya juga melihat ulasan terakhir yang rata-rata memberi nilai sangat baik atau puas. 

Dari aplikasi traveloka saya menemukan hotel ini adalah salah satu hotel yang memiliki diskon hingga 60%. Namun, harga di tiap tanggal berbeda-beda. Untuk hari Sabtu bisa mencapai harga 7 juta per kamar. Maka dari itu, saya memilih check in hari Minggu. Untungnya anak masih TK, tidak apalah ya izin sehari. Heheh. Begitu juga adik saya yang harus bolos kuliah, tapi untungnya keponakan lagi libur karena kelas 6 ada ujian.

Saya memesan hotel pada 5 April 2018 untuk menginap 22 April 2018. Saya mendapatkan harga kamar type duluxe Rp 444.000 untuk dua orang dan Family room Rp. 666.000 untuk empat orang. Harga tersebut sudah mendapat potongan dari promo dan voucher traveloka. Tapi saya gak tahu juga harga sebenarnya berapa. Heheh. Ohya harga itu sudah termasuk sarapan gratis tapi tanpa pembatalan gratis (nonrefundable).

Lokasi Hotel Horison Palma Pangandaran ini sangat mudah dicari. Dari pintu gerbang Pangandaran, kita tinggal lurus sampai ujung sebelum cagar alam. Hotel ini juga sangat dekat dengan pantai Barat, sehingga jika kita ingin bermain ke pantai tinggal menyebrang. Area parkir hanya sebatas depan hotel sehingga kurang luas. Namun, kita dapat menggunakan area di sebelahnya atau sebrang hotel untuk parkir.

Penampakan Gedung
Hotel Horison Palma Pangandaran
Sayangnya jam check in hotel ini pukul 14.00. Kami sudah sampai di Pangandaran sejak subuh. Sesampainya di pangandaran, kami sholat shubuh di mesjid di luar gerbang pantai Pangandaran. Beristirahat dan minum teh di warung dekat mesjid. Kemudian kami mengunjungi pantai Timur untuk menyaksikan matahari terbit. Setelah itu, kami menggelar tikar di pantai Barat untuk membuka perbekalan dan anak-anak bermain di pantai. Selanjutnya kami menggelar tikar dekat cagar alam sambil menunggu waktu check in. Kebetulan di sana sedang ada acara unniversary Hotel Palma Pangandaran yang kedua. Kami menggelar tikar di bawah pohon yang di atasnya bergelantungan monyet-monyet.

Menunggu di cagar alam, sebrang hotel
Tiba pukul 12.00, mungkin kami sudah diperbolehkan untuk check in. Setelah sampai, kami harus menunggu kamar yang sedang dipersiapkan. Kami hanya duduk-duduk di kursi tanpa disediakan welcome drink. Cukup lama kami menunggu, tapi tidak samapi jam 14.00 sih, akhirnya dapat kunci kamar. Kami mendapat dua kamar berbeda lantai. Saya menyetujui saja daripada menunggu lama lagi.

Pegawai-pegawainya cukup ramah, setiap kali bertemu selalu menyapa. Namun, saya selalu lupa memotret setiap masuk ke kamar Hotel. Karena bawaannya ingin langsung istirahat dan menyimpan barang-barang. Tapi saya pastikan kamar yang ada di iklan sama dengan yang saya dapatkan. Kamar dengan type duluxe cukup luas buat kami yang membawa 2 anak kecil. Ternyata welcome drinknya disediakan di kamar, yaitu dua buah minuman kemasan dan dua buah snack.

Deluxe Room

Seperti biasa fasilitas yang kami dapatkan seperti perlengkapan mandi, handuk, sandal, AC, TV, lemari baju. AC dan saluaran air di kamar mandipun lancar. Namun, fasilitas yang berbeda yang saya dapatkan dari hotel-hotel sebelumnya yanga saya kunjungi adalah adanya peralatan sholat dan sisir. Heheh. Saya sudah mewanti-wanti untuk membawa sisir karena sering lupa dan tidak tersedia di Hotel. Tapi ternyata di Horison palma ini sudah disediakan. Dan yang membuat terkagum-kagum, di dalam laci meja terdapat mukena, sejadah, sarung, dan alquran. Suami juga yang sering lupa bawa sarung, tapi alhamdulillah di sini sudah tersedia. Meskipun bukan hotel syari'ah, tapi hotel ini tahu benar kebutuhan para pelanggannya.

Family Room
Yang paling membuat saya tertarik untuk menginap di Horison Palma Pangandaran ini adalah view pantai yang bisa dinikmati dari atas roof top. Pilihan hotel lain yang saya bandingkan waktu itu adalah kelebihannya dengan suasana Bali. Saya lebih memilih view pantai karena memang tujuan ke sini kan lihat pantai. Hihih. Namun, sayang saat sayatidak sabar ingin memandang hamparan luas dari atas, aksesnya baru dibuka pukul 16.00. Ya untuk memandang view pantai dari rooftop Hotel, kita harus masuk cafe. Akhirnya saya kembali ke kamar dan beristirahat.

Roof top Hotel Horison Palma Pangandaran

Mungkin rooftop tersebut di khususkan untuk melihat sunset pada sore hari. Akhirnya kami bersiap untuk memandang laut dan matahari dari atas. Subhanallah.. pemandangan yang indah, yang kami nanti-nantikan sejak lama. Semakin petang, hamparan itu memantulkan cahaya dari atas, kemudian bersatu bersama lingkaran jingga, lalu tenggelam dan hilang berganti dengan kelap kelip lampu. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan.

Menyaksikan Sunset di Rooftop hotel





Di cafe itu kami memesan jus, milk shake, dan pizza. Jus seharga Rp 17.000 dan pizza Rp 65.000. Kalau milkshake lupa harhanya karena tetehku yang pesan. Jusnya tidak terlalu kental dan cenderung encer untuk harga segitu. Untuk pizzanya lumayan enak. Tapi nunggu pesanan pizza lama banget sampai anakku bete.



Keesokan harinya kami berencana untuk berenang dan sebelumnya sarapan dulu. Harga kamar yang kami pesan sudah termasuk sarapan. Karena saya bawa dua anak 6 tahun dan 3 tahun, harus bersiap kalau kena charge biaya. Tapi alhamdulillah tidak kena. Makananya lumayan bervariasi, dari makanan berat sampe ringan. Ada bakso pula. Namun, sayang tidak ada nasi goreng. Padahal anak saya suka banget nasi goreng. Ketinggalan atau gimana ya. Yang ada malah nasi kuning. Rasa makanannya enak-enak kok. Karena buatku makanan cuma enak dan enak banget. Hahah.

Breakfast di foto iklan
Foto asli. Mirip kan dengan iklan.


Selanjutnya kami ke kolam renang untuk mengajak anak-anak berenang. Pastinya seneng banget anak-anakku karena kesukaannya main air. Oleh karena itu, fasilitaa kolam renang harus selalu ada pada hotel yang saya pilih. Selain itu, saya juga sedang semangatnya belajar renang. Heheh. Tapi sayang buat kolam ukuran 1,2 m kecil sekali alias pendek jaraknya. Padahal itu ukuran favorit saya buat belajar berenang. Kolam renang untuk anak juga kecil. Untungnya, tidak ada yang berenang selain kami. 




Sebenarnya saat hunting gambar hotel ini, kolam renang tidak terlalu disorot. Sempat saya juga bertanya seperti apa kolam renangnya. Hanya satu gambar dan tidak terlalu jelas. Tapi dalam fasilitas terdapat kolam renang. Yang lebih diunggulkan dalam hotel ini adalah view pantainya di atas rooftop. Jadi pemilihan hotel juga tergantung kebutuhan kita apa yang diinginkan. Kalau mencari yang sempurna tentu agak sulit. Tapi yang terpenting buat saya dalam memilih hotel adalah tidak ada yang komplain pada kamar mandi. Jika sudah ada yang mempermaslahkan kamar mandi dalam ulasan, itu sangat saya pertimbangkan atau bahkan langsung saya skip.

Baca juga : Itinerary Bandung-Yogyakarta Menggunakan Kendaraan Pribadi

Fasilitas lain dalam hotel ini adalah tempat fitnes tapi kami tidak mencobanya dan tempat bermain anak seperti perosotan dan mandi bola meskipun kecil. Sistem lift tidak menggunakan kunci kamar, sehingga jika mau keluar masuk hotel tidak perlu repot semuanya harus ikutan.

Secara keseluruhan, kami puas menginap di hotel ini. Tapi banyaknya pilihan hotel di Pangandaran, tentunya saya ingin mencoba hotel lain untuk menambah pengalaman. Doakan ya bisa berlibur lagi ke Pangandaran. :)

Minggu, 13 Mei 2018

Petualangan Mencari Skincare, Sampai Akhirnya CLBK

Sebagai seorang perempuan, ternyata kita tidak hanya diribetkan masalah rumah dan bocah kecil. Tapi juga masalah kulit wajah yang sedikit banyak mengalami perubahan, baik seiring usia maupun perubahan hormon saat hamil dan melahirkan. Inginnya kami sebagai istri ya alami-alami saja, tanpa repot melakukan perawatan. Kesibukan pekerjaan rumah dan mengurus anak pun sudah menguras waktu. 



Setidaknya saya merasakan dua kali fase kehamilan dan kelahiran. Sebetulnya kulit wajah saya memang sudah berjerawat dan berpori besar saat sekolah. Namun, saat memasuki dunia kerja dan sebelum menikah, kulit saya udah lumayan terawat. Heheh. Maklum ya zaman sekolah dan kuliah tingkat stress tinggi dan tidak ada waktu buat perawatan. Memasuki dunia kerja, meski masih freelance, tingkat kekusaman wajah berkurang, jerawat juga tidak terlalu sering muncul. Bahkan teman SMA saya yang saat itu bertemu setelah bertahun-tahun berpisah, takjub dengan warna kulit saya. Sebelumnya kulit wajah dia lebih putih dariku. Tapi, saat kami bertemu kondisi malah sebaliknya. Saya juga tidak menyangka akan memiliki wajah secerah itu. Waktu itu, saya hanya menggunakan krim malam dari P**** seri white beauty. Untuk krim siang saya masih menggunakan seri acne.


Setelah menikah, saya tidak sempat mengalami yang namanya bulan madu. Hiks. Sebagai pegawai baru, saya diberi cuti nikah hanya dua hari. Bayangkan gaes, cuma dua hari buat seorang pengantin perempuan. L Dan tiga minggu dari situ, saya sudah positif hamil #Curhatmodeon. Saat itu sudah mulai mual dan pusing. Dan kulit wajah kembali lagi berjerawat. -__-




Produk yang saya pakai sudah tidak mempan lagi menangani jerawat. Saya memaklumi karena ini akibat faktor hormon kehamilan. Setelah melahirkan anak pertama, saya dikenalkan produk KK Indonesia dari seorang teman di kantor. Kebetulan saya habis melahirkan dan sempat tidak pakai skincare apa-apa saat hamil. Sehingga tepat waktu jika ingin mengganti produk skincare. Waktu itu hanya pelembab saja yang ditawarkan. Sebut saja perl cream. Harga cukup mahal untuk ukuran 20 gram. Tetapi teman saya itu sangat kreatif, dia bagi kemasan 20 gram ke dalam wadah 4 kecil masing-masing 5 gram. Sehingga untuk membelinya harus terkumpul empat orang.

Saat pertama memakainya, wajah saya tampak berbedak tebal. Ternyata seharusnya pemakaian sedikit saja. Dan dalam kemasanpun dituliskan bisa sebagai pengganti bedak. Saya oleskan sedikit saja ke wajah dan itu digunakan secara rutin. Setiap bepergian saya pakai perl cream tersebut, begitupun saat ke kantor.

Saya tidak terlalu memperhatikan perubahan wajah. Justru yang memperhatikan adalah ibu dan kakak saya. Mereka bilang wajah saya halus dan cerah. Saya tidak mengklaim bahwa ini hasil dari perl cream. Saya berpikir bahwa wajah saya dari dulu kan emang begitu. Hahaha. Kemarin kusam dan jerawatan karena faktor hormon. Wkwkw. Tetapi ibu dan kakak saya tetap (keukeuh, kalau dalam bahasa sunda) ingin pesan perl cream yang saya pakai. Tapi untung juga sih bagi saya, jadi tidak perlu cari orang lagi buat keroyokan beli perl cream 20 g. Hihihi.

Bencana mulai datang saat saya tergoda dengan sebuah produk MLM. Tergoda dengan bonus, potongan harga, dan poin-poin. Saat itu saya membeli berbagai rangkaian produk baik skincare maupun kosmetik. Saya mencoba bersabar dengan produk yang baru ini. Awalnya muka saya berasa lengket, berminyak, dan akhirnya jerawatan lagi. L Kulit terlihat kusam lagi, banyak noda-noda bekas jerawat. Sedih deh.

Saya tidak lagi menggunakan produk KK karena teman yang suka dipesanin sudah mutasi ke Jakarta. Saya beralih kembali menggunakan produk P**** . Sampai saya hamil anak kedua, saya jarang menggunakan skincare.

Setelah melahirkan anak kedua, saya mulai menggunakan lagi P****. Tapi produk yang saya pakai sudah sulit dicari. Yang dulu namanya clear solution yang diperuntukan bagi kulit berjerawat. Sekarang yang banyak beredar namanya acne solution. Saya kurang paham juga dengan produk P**** ini, antara berganti nama atau produk baru. Seperti juga produk pemutih, dulu namanya white beauty, sekarang yang beredar flewless. Dulu saya juga pakai white beauty untuk cream malam. Saya lebih cocok produk yang lama. Produk baru sudah pernah mencoba tapi hasilnya tidak sebagus produk lama. Sempat saya bertanya kepada SPG di supermarket, dia berkata bahwa produk lama masih ada. Tapi kenyataannya saya mencari itu sangat susah. Awalnya saya masih bisa dapat meskipun itu kebetulan lewat jadi saya beli. Tapi sekarang sudah tidak menemukan lagi produk yang lama. Dari bentuk krimnya juga sudah beda antara yang lama dengan yang baru.



Sempat juga menggunakan produk W*****, tapi tidak cocok juga karena jerawat saya semakin tumbuh subur. Akhirnya untuk sementara saya menggunakan produk yang ada di apotek. Saya masih mencari-cari produk skincare yang lain. Jujur saja saya ingin menggunakan produk KK tapi selalu tidak ada waktu untuk membelinya di distributor. Bahkan saat sempat ke dokter kulit, namun saya kurang telaten dan sulit waktu untuk konsultasi lagi. Penawaran salah produk MLM lain juga sempat menggoda saya, tapi saya sudah kapok dengan produk MLM. 

Kesempatan untuk menggunakan produk gratis pun datang. Pertama, saya menghadiri undangan launching sebuah produk skincare. Di sana terdapat pemeriksaan juga. Sudah dapat dipastikan wajahku berminyak, pori-pori besar, dan berjerawat. Setiap peserta yang hadir diberi goody bag berupa produk skincare sesuai jenis kulitnya. Sementara aku yang merupakan undangan blogger, pemberian goodybagnya ditangguhkan. Why? Ownernya bilang ada produk khusus untuk berjerawat, nanti akan dikirim menyusul. Dia bilang akan menghubungi via wa dari data presensiku. Tapi saya mntunggu cukup lama tidak ada juga yang menghubungi. Kemudian, saya inbox, dan memberi alamat saya. Tidak ada juga kiriman maupun respon inbox. Kecewa banget, padahal liputannya sudah saya posting. 

Kedua, kesempatan endorsmen salah satu produk baru. Di suatu grup menulis, dicari endorsment untuk produk skincare dengan rentang usia, kalau tidak salah 25-35 tahun. Waah usiaku masih masuk. Tapi, Deadline pendaftarannya sudah lewat, Maak. Sedih banget. Karena saya sudah jarang buka facebook sehingga ketinggalan informasi. Saya tahu dari status penanggungjawabnya yang susah mencari ibu-ibu rentang usia itu di grup menulisnya. Dan status itu sudah dua hari yang lalu. Akhirnya aku harus ikhlas merelakan produk skincare gratis itu. Padahal jika salah satu produk itu ada yang cocok, saya akan mempertimbangkan untuk menjadi konsumen tetap.

Jerawat di wajahku semakin menjadi saat aku menjadi pegawai tugas belajar dan menjalani LDR dengan keluarga kecilku. Setiap hari bergadang menyelesaikan tugas-tugas. Kamis malam pulang ke Bandung dan Senin pagi sampai lagi di Jogja langsung mengikuti perkuliahan. Begitu seterusnya. Tidak heran jika mata sepet kurang tidur, badan capek, belum lagi pikiran stress. Jerawat datang silih berganti, ibaratnya satu hilang tumbuh seribu. Keinginan untuk mengobati jerawat kian kuat. Ke dokter sudah tidak punya waktu. Akhirnya saya menyempatkan diri ke distributor KK untuk membeli produk KK, karena saya sudah merindukan kulit yang mulus dan cerah. Bebas jerawat tentunya. Namun, saat saya mendatangi distributor di alamat yang diberitahu teman dulu, sudah tidak ada lagi alamatnya. Pulang dengan kekecewaan.



Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan P**** seri anti Aging. Maklum usianku udah 30+. Berharap di produk ini aku menemukan keberuntungan. Selama 2 bulan aku bersabar menggunakan produk ini. Dan menurutku harganya tidak murah, apalagi untuk serumnya. Setiap hari aku menggunakan day cream dan serumnya. Pada malam hari juga aku selalu bermasker ria. Dari berbagai merk saya coba. Setelahnya wajah memang tampak bersih. Tapi jerawat tetap muncul. Ohya saya juga menggunakan obat jerawat baik dari dokter maupun apotek. Obat dari dokter tidak memberikan reaksi apapun terhadap jerawat yang meradang. Sedangan obat dari apotek yang tidak bisa saya sebutkan namanya, memang peradangan terhambat. Tapi, jerawatnya jadi membatu dan membekas. Dan itu lama sekali membatunya. Selain itu, saya juga menggunakan obat dari apotek untuk perawatan dari dalam. Hasilnya, ya gitu deh.

Seakan kondisi memaksakanku untuk benar-benar membeli produk yang dulu, perl cream dari KK. Sehingga saya memberanikan diri membelinya saat di Jogja. Browsing sana sini untuk mencari alamatnya. Iseng-iseng juga saya mencari reviewnya. Tapi jarang sekali ada blogger yang mereview. Hasil browsing tersebut, berhembus juga isu bahwa perl cream itu mengandung bahan berbahaya. Meskipun begitu, saya sudah lelah mencari produk yang cocok. Seperti cinta lama bersemi kembali (CLBK), saya tetap memilih produk ini karena sudah merasakan hasilnya dulu. Alhamdulillahnya sekarang ada produk mini packnya. Jadi tidak terlalu berat untuk membelinya. 

Kali ini tidak hanya perl cream yang saya gunakan, tapi juga rangkaian lain bernama Beautyzen seperti cleanser lotion dan toner. Semuanya sudah memilikii nomor POM notifikasi. Karena berasal dari luar (Thailand), produk ini memiliki kode POM NA. Menurut BPOM, keamanan produk luar negeri dijamin oleh negara pembuat. Namun, jika sudah beredar maka BPOM akan mengambil sampel di pasaran produk tersebut (post market surveillance). Sepanjang tidak ada berita penarikan kembali maka produk tersebut masih aman dan dapat digunakan dengan baik.





Itu tergantung keyakinan masing-masing ya. Namun, jika kulitnya sudah normal alias baik-baik saja dengan hanya produk drug store, mending tidak usah sih. Ini karena kulit mukaku mengerikan jadi saya harus menggunakan ini. Menurutku kulit yang bagus itu adalah asal tidak ada jerawat. Sekalipun gelap, yang penting bersih.

Siapa sih yang PD dengan muka berjerawat tidak berkesudahan? Bukan hanya tidak PD, tapi juga tidak nyaman, sakit, dan perih gaes..

Saat tulisan ini dibuat, saya sudah memakai rangkaian produk KK ini selama satu minggu. Alhamdulillah tidak ada muncul jerawat baru. Hanya sisa-sisa benjolan sebelumnya. Padahal ini adalah minggu haid. Biasanya sebelum dan saat haid itu jerawat bikin ngeselin.

Semua cerita saya disini mengenai berbagai produk yang saya pakai belum tentu memiliki reaksi yang sama dengan kalian ya. Tidak cocok di saya belum tentu tidak cocok bagi kalian. Begitu pun sebaliknya, cocok di saya belum tentu cocok bagi kalian.

By the way, setelah mendatangi distributor KK di Jogja, ternyata produk ini memang MLM juga. Hahaha. Tapi saya belum jadi member, masih memakai ID teman saya. Jadi di sini saya bukan promosi ya. Wkwk.

Kamis, 10 Mei 2018

[Review] Film 212: The Power of Love, Penemuan Cinta Dalam Perjalanan Ciamis-Jakarta

Selalu ada titik balik dalam sebuah perjalanan. Perjalanan mengajarkan manusia akan kesabaran, perjuangan, dan perubahan. Maka tidak heran jika Allah menghendaki kita untuk bergerak dalam meraih sebuah perubahan menuju kebaikan tentunya.



Film 212: The Power of Love yang disutradarai Jastis Arimba ini merupakan film dengan kisah yang berlatar peristiwa aksi 212. Bukan sebaliknya, film yang melatarbelakangi aksi 212. Mungkin sebagian orang berpikir bahwa film ini akan berkisah tentang latar belakang aksi yang terjadi pada 2 Desember 2016 yang penuh muatan politik. Namun, sebenarnya konflik utama dalam film ini adalah drama keluarga. Seorang ayah dan anak yang memiliki ideologi berbeda bahkan bertolak belakang.



Rahmat yang diperankan oleh Fauzi Baadilla merupakan seorang jurnalis lulusan terbaik dari Harvard University, Amerika yang memiliki pemikiran pluralisme sehingga bersikap skeptis terhadap agamanya sendiri. Ayahnya bernama KH Zainal Abdullah yang diperankan oleh Humaidi Abas dikenal sebagai Kyai yang memiliki banyak jamaah dan sangat dihormati.



Kisah masa lalunya yang membuahkan kekecewaan, kebencian, dan kesombongan pada diri seorang Rahmat. Tulisan-tulisannya selalu mendengungkan genderung perang terhadap agamanya sendiri.

Alur cerita yang apik membuat kisah ini menarik. Juga akting dari para pemain yang berhasil menggetarkan hati para penonton. Berbeda dengan film-film religi lainnya, di film ini tidak diiringi sountrack lagu yang biasanya digunakan untuk mendukung adegan. Namun, tanpa sountrack lagu pun, adegan dalam film ini sangat mengena hati di hati penonton. Suara alami seperti lantunan alqur'an, takbir, sholawat, dan teriakan semangat yang membuat film ini begitu hidup. Tanpa sadar air mata sudah tidak kuat dibendung.

Diantara adegan yang menegangkan dimana terjadi perang argumen antara Rahmat dengan tokoh lainnya, terselip lelucon yang selalu diperankan Adhin Abdul Hakim Sebagai Adhin. Hal tersebut menjadikan film ini juga terasa bumbu komedinya.



Film yang bersetting di Ciamis ini, menjadikan budaya lokal terangkat di film ini. Mulai dari kentalnya logat sunda sampai pengambilan scane ikon-ikon kota Ciamis.

Film yang dirilis dengan penggalangan wakaf ini, merupakan film yang humanis tentang cinta, keimanan, dan perdamaian. Cinta sesama manusia dan cinta kepada Allah. Tidak ada yang mampu menggerakan hati seseorang selain Allah. Rahmat yang telah pergi jauh dari keluarganya selama 10 tahun, tergerak hatinya untuk kembali pulang.



Tidak mudah baginya untuk meluluhkan ego yang telah lama ia pupuk. Keterlibatannya dalam perjalanan Ciamis-Jakarta hanya demi menjaga sang Ayah. Sehingga selama perjalanan, kebekuan dan kecurigaan masih tetap tersulut.

Suasana yang terbangun saat rombongan tiba di Jakarta dan sampai di lapangan monas memiliki ruh yang sama saat peristiwa itu terjadi. Mungkin sebagian diambil dari dokumentasi asli peristiwa tahun 2016 lalu, dimana masa begitu tumpah ruah memadati lapangan monas dan sekitarnya. Dalam film berdurasi dua jam ini, penonton merasakan kembali semangat 212 yang kental dengan rasa ukhuwah islamiyah dan islam sebagai rahmatal lil'alamin. Makanan dan minumun dibagikan secara gratis, kebersihan dijaga, dan satu sama lain saling menjaga walaupun tidak saling mengenal.



Keberadaan Rahmat dalam aksi 212 tidak lepas dari dukungan dari orang-orang di sekitarnya, seperti Adhin  (teman profesinya),  dan Yusna (teman masa kecilnya) sehingga ia bisa sedikit berdamai dengan masa lalunya. Rahmat bertemu dengan para peserta aksi, melihat sendiri perdamaian, kasih sayang, dan cinta yang terbangun dalam aksi ini. Pada akhirnya, di lapangan monas ini ia telah mengurai benang kusut masa lalu bersama ayahnya.

Dialog antara Rahmat dan Ki Zainal dalam menyelesaikan masa lalunya merupakan adegan yang paling ditunggu penonton, karena sejak awal cerita hingga sampai di lapangan monas belum diketahui masalah yang terjadi antara Anak dan Ayah itu sehingga menyulut kebencian satu sama lain.



Pada film ini diperkenalkan pemain baru Humaidi Abas sebagai Ki Zainal. Menurut saya pribadi, beliau telah sukses memainkan perannya sebagai Ki Zainal. Sering kali saya dibuat menangis melihat adegannya terutama saat ia berkali-kali lemah dalam kesakitan. Adegannya saat meminum obat, kelelahan menempuh perjalanan, dan saat jatuh di kamar mandi. Seorang yang tegar bergerak untuk membela agama Allah meskipun kondisinya begitu lemah. Keyakinan akan pertolongan Allah dan rasa solidaritas untuk membela apa yang ia yakini.



Dengan demikian, film 212: The Power of Love sangat layak ditonton untuk semua kalangan, baik muslim maupun nonmuslim, orangtua maupun anak. Its about love, faith, and peace. Terima kasih untuk para pihak yang terlibat, telah mempersembahkan tontonan yang bermanfaat dan menghibur.